Pembentukan Mental Anak Indonesia

Seringkali kita temukan disekitar kita, banyak sekali anak yang berpotensi namun kurang mempunyai mental berani untuk menunjukkan kemampuannya. Yang mana hal ini akan mempengaruhi bagaimana pola pikir anak tersebut kedepannya. Sedangkan di masa kini diperlukan banyak sekali pencetak prestasi gemilang untuk mengharumkan nama Indonesia di kancah dunia sekalipun.

Pembentukan mental pertama kali dibentuk oleh keluarga. Gaya pendidikan tiap keluarga berbeda beda. Ada yang seakan mengekang perkembangan mental anak untuk lebih baik ada juga yang cenderung mengumbar. Masing masing mempunyai nilai plus minus sendiri sendiri. Dengan daya tangkap anak usia dini yang cenderung cepat, pembentukan mental itu makin cepat tertanam dan sulit untuk dirubah. Walaupun memungkinkan untuk dirubah. Baik buruk nya mental anak dalam menghadapi dunia luar tergantung pada pola pendidikan keluarga tersebut. Kurangnya sosialisasi juga memicu berlanjutnya pola pendidikan yang kurang membangun mental anak secara baik dan optimal.

Yang kedua dibentuk oleh lingkungan sekolahnya. Kita ketahui kurikulum pendidikan sekarang berdasarkan apa yang ditetapkan Pemerintah. Tapi yang selama ini kita ketahui, pembentukan mental tiap anak melalui proses yang berbeda. Tiap individu belum tentu mempunyai karakter yang sama dalam pengajaran.Terkadang dunia pendidikan kurang menekankan bagaimana mental yang baik. Bagaimana cara mencari ilmu yang baik. Dunia pendidikan sekarang seakan menuntut kita memperoleh nilai baik dengan apapun caranya. Baik yang halal maupun haram. Sehingga banyak sekali mental yang cenderung bobrok dikala menjelang ujian atau bahkan saat ujian tiba. Contek sana sini seakan menjadi rahasia umum yang menjadi jalan alternatif para pelajar. Jika yang masih pelajar saja sudah mencontek, bagaimana proses kepemimpinan negara ini kelak?

Bahkan pernah saya menemui seorang orang tua yang menyuruh anaknya mencontek dikala Ujian Nasional. Ini merupakan salah satu tindakan yang sangat persuasif yang mana menuntut anaknya memperoleh nilai bagus dengan cara instan.

Tidak bisa kita prediksi bagaimana nasib mental anak Indonesia beberapa tahun kedepan jika budaya yang negatif masih merajalela bahkan mengakar. Proses sosialisasi sejak dini juga mempengaruhi mental anak. Memperkuat nilai nilai agama juga ikut andil dalam hal ini. Karena nilai kejujuran harus selalu ditegakkan.

Artikel  ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Indonesia Bangkit di BlogCamp.


Let's Comment and Like This Post ♥♥

Copyright 2011-2012, Dyah Ayu Nurinda Shabrina